Kena PHK dan Mau Coba Bikin Usaha? Ini yang Perlu Disiapkan Dulu
Jawaban singkat
Sebelum memakai pesangon sebagai modal, hitung dulu berapa bulan biaya hidup yang harus diamankan, lalu tentukan uang yang memang siap berisiko. Pilih masalah dan calon pelanggan sebelum memilih nama brand, cari bukti orang mau membayar sebelum membangun terlalu jauh, mulai dengan biaya tetap sekecil mungkin, pisahkan uang pribadi dan uang usaha sejak awal, dan cek izin yang memang berlaku untuk kegiatan usahamu.

Kena PHK sering membuat pilihan hidup terasa mendadak menyempit.
Cari pekerjaan lagi, ambil waktu sebentar, freelance, atau akhirnya mencoba usaha yang selama ini cuma kepikiran.
Memulai usaha memang bisa menjadi salah satu pilihan.
Tapi ada satu hal yang perlu jelas sejak awal: usaha bukan pekerjaan baru dengan kamu sebagai bosnya sendiri.
Cara uang masuk berbeda. Cara menentukan prioritas berbeda. Cara mengukur apakah kamu bekerja dengan benar juga berbeda.
Jadi sebelum menggunakan pesangon untuk stok barang, sewa tempat, bikin logo, atau pasang iklan, ada beberapa hal yang sebaiknya dibereskan dulu.
Delapan hal yang perlu dibereskan dulu
- Jangan langsung masukkan seluruh uang yang kamu punya sebagai modal.
- Hitung dulu berapa bulan biaya hidup yang harus diamankan.
- Pilih masalah dan calon pelanggan, bukan langsung memilih nama brand.
- Cari bukti orang mau membeli sebelum membangun usaha terlalu jauh.
- Mulai dengan biaya tetap sekecil mungkin.
- Pisahkan uang pribadi dan uang usaha sejak awal.
- Pelajari aturan dan izin yang memang berlaku untuk jenis usahamu.
- Ubah cara berpikir dari menyelesaikan tugas menjadi menghasilkan sesuatu yang mau dibayar pelanggan.
Yang paling penting: kamu tidak perlu memutuskan hari ini bahwa kamu akan menjadi pengusaha selamanya.
Kamu cukup menentukan apakah sebuah ide layak diuji.
Pertama, jangan bikin usaha karena panik
Kehilangan pekerjaan menciptakan tekanan.
Pendapatan bulanan berhenti, tetapi biaya hidup tidak.
Dalam kondisi seperti itu, ide membuka usaha bisa terasa seperti cara paling cepat untuk mengambil kembali kendali.
Masalahnya, usaha baru biasanya justru membutuhkan uang dan belum menghasilkan pemasukan yang stabil.
Karena itu jangan mulai dari:
Gue punya uang pesangon Rp80 juta. Bisnis apa yang bisa dibuat dengan Rp80 juta?
Mulai dari:
Berapa uang yang tidak boleh gue sentuh supaya keluarga tetap aman?
Baru setelah itu:
Dari uang yang memang siap berisiko, eksperimen usaha apa yang masuk akal?
Dua angka itu sebaiknya berbeda.
Jangan anggap pesangon sebagai modal usaha
Misalnya setelah PHK kamu memiliki total uang Rp100 juta.
Biaya rumah tangga Rp10 juta per bulan.
Kalau seluruh Rp100 juta dimasukkan ke bisnis, secara teknis kamu punya modal besar.
Tapi kamu juga membuat bisnis baru harus segera membayar biaya hidupmu.
Itu tekanan yang buruk.
Alternatif yang lebih masuk akal adalah memisahkan uang untuk hidup dan uang untuk eksperimen bisnis.
Berapa bulan yang perlu diamankan tergantung kondisi masing-masing, termasuk pasangan, tanggungan, utang, sumber pendapatan lain, dan seberapa mudah kamu kembali mendapatkan pekerjaan.
Tidak ada angka universal.
Yang penting adalah runway pribadi dihitung sebelum modal bisnis ditentukan, bukan sesudah uang terlanjur dipakai.
Kalau kamu memenuhi syarat Jaminan Kehilangan Pekerjaan, cek juga hak tersebut sebelum menentukan runway. BPJS Ketenagakerjaan menyebut manfaat JKP mencakup uang tunai, akses informasi pasar kerja, dan pelatihan kerja bagi peserta yang memenuhi ketentuan.
Perubahan mindset terbesar dari karyawan ke pemilik usaha
Mungkin ini bagian yang lebih penting daripada memilih jenis bisnis.
1. Dari gaji tetap menjadi cash flow yang tidak pasti
Sebagai karyawan, kamu bekerja bulan ini kemudian menerima gaji. Besarnya relatif bisa diprediksi.
Dalam usaha, Rp20 juta penjualan belum tentu berarti ada Rp20 juta yang bisa kamu pakai.
Ada modal barang, fee marketplace, ongkir, promo, iklan, gaji, sewa, pajak, piutang, dan uang yang harus dipakai untuk membeli stok berikutnya.
Karena itu pemilik usaha tidak bisa hanya bertanya:
Omzet bulan ini berapa?
Pertanyaan berikutnya harus:
Setelah semuanya dibayar, uang yang benar-benar tersisa berapa?
Dan satu lagi:
Uangnya masuk kapan?
Profit dan cash flow bukan hal yang sama.
2. Dari job description menjadi hasil
Di kantor mungkin pekerjaanmu jelas. Marketing mengurus marketing. Finance mengurus finance. Operations mengurus operations.
Ketika baru menjalankan usaha, pembagian itu belum ada.
Hari ini kamu mungkin harus memikirkan produk, menjawab customer, menghitung harga, mengecek supplier, membuat konten, mencatat uang, dan mengurus izin.
Karena itu jangan mengukur hari dari:
Hari ini gue sibuk banget.
Ukur dari:
Apa yang berubah di bisnis karena pekerjaan gue hari ini?
Misalnya 10 calon customer diwawancarai, 3 orang preorder, harga produk sudah dihitung, supplier alternatif ditemukan, 20 customer lama di-follow-up.
Itu output. Bukan sekadar aktivitas.
3. Dari bos menentukan prioritas menjadi pelanggan menentukan prioritas
Di perusahaan, seseorang biasanya menentukan apa yang perlu dikerjakan.
Dalam usaha, tidak ada orang yang memberikan daftar pekerjaan setiap Senin pagi.
Akibatnya pemilik usaha baru gampang mengerjakan hal yang menyenangkan: logo, nama brand, kemasan, website, Instagram, kartu nama, seragam.
Padahal belum tentu itu hambatannya.
Pelanggan adalah salah satu sumber prioritas terbaik.
Kalau belum ada yang mau membeli, jangan terlalu sibuk menyempurnakan packaging.
Kalau banyak orang bertanya harga tetapi tidak membeli, periksa harga, value, target pasar, atau cara menjual.
Kalau customer membeli tetapi tidak kembali, masalahnya berbeda lagi.
Prioritas usaha datang dari bottleneck, bukan dari apa yang paling seru dikerjakan.
4. Dari pekerjaan yang harus benar menjadi eksperimen yang boleh salah
Sebagai karyawan, kesalahan sering dianggap sesuatu yang harus diminimalkan.
Dalam usaha baru, kamu justru perlu melakukan banyak eksperimen kecil yang mungkin gagal.
- Jangan produksi 1.000 unit untuk mencari tahu apakah orang suka. Produksi 20.
- Jangan sewa ruko dua tahun untuk membuktikan konsep F&B. Cari cara menguji produk terlebih dulu.
- Jangan bikin aplikasi tiga bulan sebelum tahu orang mau menggunakannya. Bikin prototype.
- Jangan langsung menghabiskan Rp20 juta untuk iklan. Tentukan batas uji dari uang yang memang siap berisiko, tulis hipotesisnya, dan berhenti saat batas biaya atau waktunya tercapai. Nominal uji tidak harus sama untuk setiap orang.
Tujuannya bukan menghindari semua kegagalan.
Tujuannya adalah membuat kegagalan murah dan pembelajaran cepat.
5. Dari gue bisa bikin ini menjadi siapa yang mau bayar

Ilustrasi suasana usaha, dibuat dengan AI.
Keahlian yang sudah kamu punya mengurangi jumlah hal yang harus dipelajari dari nol. Tapi keahlian saja belum menjawab siapa yang mau membayarnya.
Kemampuan bukan otomatis peluang bisnis.
Kamu bisa jago desain, jago masak, jago Excel, jago AI, jago fotografi.
Pertanyaan berikutnya tetap:
Siapa yang punya masalah cukup besar sehingga mau membayar untuk kemampuan itu?
Urutannya sebaiknya orang, lalu masalah, lalu solusi, lalu harga. Bukan skill, lalu produk, lalu berharap ada pembeli.
Contoh sederhana. "Gue bisa bikin kue" masih terlalu luas. "Orang tua di Jakarta Selatan butuh snack box anak tanpa bahan tertentu untuk ulang tahun sekolah" sudah lebih dekat ke sebuah pasar yang bisa diuji.
6. Dari spesialis menjadi orang yang harus mengerti seluruh mesin
Kamu tidak harus menjadi ahli semuanya.
Tapi sebagai pemilik, kamu harus memahami bagaimana bagian penting bisnis saling terhubung.
Marketing membawa customer. Sales mengubah minat menjadi pembelian. Operations memenuhi janji. Finance memastikan bisnis tidak kehabisan uang. Customer service menjaga pengalaman. Supplier memengaruhi kualitas dan margin.
Kalau satu rusak, bagian lain ikut terasa.
Jadi seorang pemilik tidak harus mengerjakan semuanya selamanya. Tapi pada tahap awal, kamu perlu tahu cukup banyak untuk melihat apakah mesinnya bekerja.
Jadi usaha apa yang sebaiknya dimulai setelah PHK?
Jangan mulai dari daftar kuliner, laundry, franchise, dropship, atau coffee shop.
Mulai dari tiga hal.
Sesuatu yang kamu cukup pahami
Pengalaman kerja sebelumnya bisa menjadi advantage.
Misalnya kamu pernah mengurus procurement, menjual B2B, mengelola marketplace, mengurus HR, bekerja di F&B, mengelola gudang, menjadi designer, atau bekerja dengan industri tertentu.
Pengetahuan tersebut mungkin memberimu akses ke masalah yang orang lain tidak melihat.
Tidak berarti usahamu harus sama dengan pekerjaan sebelumnya. Tetapi domain knowledge mengurangi jumlah hal yang harus dipelajari dari nol.
Masalah yang nyata
Cari masalah yang sudah membuat orang mengeluarkan uang, kehilangan waktu, kehilangan penjualan, melakukan pekerjaan manual, mengeluh, atau menggunakan solusi yang buruk.
Lebih menarik kalau masalah terjadi berulang.
Misalnya, "orang suka kopi" bukan masalah. "Kantor kecil kesulitan menyediakan konsumsi meeting mendadak tanpa minimal order besar" lebih spesifik.
Eksperimen yang murah
Untuk usaha pertama setelah kehilangan pendapatan, saya akan lebih tertarik pada ide yang bisa diuji dengan modal kecil, biaya tetap rendah, tanpa kontrak panjang, tanpa banyak staf, dan tanpa inventory besar.
Bukan karena bisnis bermodal besar selalu buruk.
Tetapi karena reversibility punya nilai ketika kondisi keuanganmu belum stabil.
Sebelum bikin produk, bicara dengan calon customer
Ini sering dilewati.
Misalnya kamu ingin menjual frozen food. Jangan hanya bertanya:
Kalau gue jual frozen food, tertarik gak?
Orang gampang menjawab iya.
Tanyakan perilaku nyata:
- Terakhir beli frozen food kapan?
- Biasanya beli apa?
- Belinya di mana?
- Berapa harga yang biasa dibayar?
- Apa yang bikin kecewa?
- Apa yang akhirnya dibuang?
- Kalau stok habis, biasanya beli lagi produk yang sama atau ganti?
Kamu sedang mencari bukti perilaku, bukan dukungan moral.
Lebih baik lagi, coba minta uang
Sepuluh orang bilang "wah bagus nih" belum sama dengan satu orang yang bersedia membayar.
Sebelum menerima pembayaran atau memenuhi pesanan, periksa persyaratan yang harus selesai untuk kegiatan dan produkmu. Jika belum siap, uji kebutuhan lewat percakapan atau demonstrasi yang sesuai. Setelah syarat yang relevan terpenuhi, pertimbangkan sample, preorder dengan janji yang jelas, jasa percobaan, atau batch terbatas.
Misalnya ide produkmu membutuhkan Rp30 juta untuk versi sempurna. Tanya:
Apa versi Rp1 juta yang bisa membuktikan ada customer?
Kalau tidak ada cara sama sekali untuk menguji permintaan tanpa investasi besar, kamu sedang mengambil risiko yang lebih tinggi dan perlu bukti yang lebih kuat.
Siapkan dasar operasional sejak uji pertama
Ketika usaha mulai bergerak, jangan biarkan semua bercampur.
Tentukan cara menerima pembayaran, mencatat uang, menetapkan harga, memenuhi pesanan, dan menangani komplain sebelum transaksi pertama. Pisahkan persyaratan yang harus selesai sebelum berjualan dari perbaikan operasional yang dapat dikerjakan bertahap. Jangan menunggu ada pembeli untuk mulai memeriksa izin yang relevan.
Untuk legalitas, jangan menggunakan checklist yang sama untuk semua bisnis.
OSS menggunakan perizinan berusaha berbasis risiko. NIB merupakan identitas resmi untuk memulai atau menjalankan usaha, sementara izin dan kewajiban berikutnya bergantung pada kegiatan dan tingkat risiko usahanya.
Usaha makanan, salon, jasa desain, reseller marketplace, dan manufaktur bisa membutuhkan langkah yang berbeda.
Jadi pertanyaannya bukan "usaha harus punya izin apa?", tetapi:
Untuk kegiatan usaha gue, izin dan kewajiban apa yang berlaku?
Jangan buru-buru keluar dari pasar kerja juga
Mencoba bisnis tidak harus berarti "mulai hari ini gue bukan karyawan lagi".
Kamu bisa mencari pekerjaan sambil menguji usaha, freelance sambil membangun produk, menjalankan batch kecil, menjual akhir pekan, atau menguji jasa ke lima customer pertama.
Ada keuntungan besar dari memiliki pilihan.
Semakin usaha baru harus berhasil bulan depan supaya kamu bisa membayar hidup, semakin buruk kualitas keputusan yang mungkin kamu buat.
Kamu bisa menerima customer yang salah. Menurunkan harga terlalu jauh. Menghabiskan uang untuk mengejar omzet. Atau mempertahankan ide yang sebenarnya tidak bekerja karena terlalu banyak uang sudah terlanjur masuk.
Sebelum mulai, jawab 10 pertanyaan ini
| Pertanyaan | Kalau belum tahu |
|---|---|
| Siapa calon customer pertama? | Bicara dengan calon customer |
| Masalah apa yang mereka punya? | Jangan buat produk dulu |
| Bagaimana mereka menyelesaikannya sekarang? | Cari alternatif atau kompetitor |
| Kenapa solusi baru lebih menarik? | Perjelas value |
| Berapa mereka biasa membayar? | Riset dan tes |
| Berapa biaya menghasilkan satu penjualan? | Hitung HPP dan biaya |
| Berapa uang yang boleh kamu risikokan? | Pisahkan runway |
| Bisakah permintaan diuji lebih kecil? | Buat MVP atau preorder |
| Izin apa yang relevan? | Cek OSS dan otoritas terkait |
| Apa tanda bahwa ide ini harus dihentikan? | Tentukan sebelum mengeluarkan banyak uang |
Pertanyaan terakhir sering dilupakan.
Sebelum mulai, tentukan:
Kalau setelah X minggu dan Y rupiah gue belum mendapat Z customer, apa yang akan gue lakukan?
Ubah tawarannya? Ubah customer? Ubah produknya? Atau berhenti?
Itu membuat keputusan lebih rasional ketika nanti kamu sudah terlanjur emosional dengan ide sendiri.
Rencana 30 hari yang lebih aman
Minggu 1, amankan posisi pribadi
Hitung biaya hidup. Pisahkan runway. Cek hak setelah PHK yang masih bisa digunakan. Tentukan maksimal uang untuk eksperimen pertama.
Jangan belanja bisnis dulu.
Minggu 2, cari masalah
Sebagai contoh rencana kerja, pilih 2 sampai 3 kelompok pelanggan yang kamu cukup mengerti dan jadwalkan percakapan awal. Jumlah percakapan bukan bukti permintaan dengan sendirinya: cari masalah, perilaku pembelian, dan alasan yang berulang. Mulai periksa persyaratan kegiatan yang ingin diuji.
Minggu 3, buat tawaran
Pilih satu masalah. Buat versi solusi paling sederhana dan hitung biaya barang serta harga jual. Periksa persyaratan sebelum menawarkan atau menjalankan transaksi. Jika belum terpenuhi, lanjutkan uji kebutuhan tanpa menerima pesanan yang belum bisa dipenuhi.
Tujuannya bukan likes. Tujuannya melihat apakah ada yang mau mengambil tindakan, idealnya membayar.
Minggu 4, tinjau hasil uji
Bandingkan hasil dengan batas biaya, waktu, dan bukti pembelian yang kamu tetapkan. Periksa pemisahan uang usaha, kemampuan memenuhi janji, serta pekerjaan yang perlu diperjelas. Untuk toko online, contoh SOP packing membantu merinci satu proses dasar.
Baru kemudian investasikan lebih banyak.
Kena PHK tidak berarti kamu harus jadi pengusaha
Ini mungkin bagian paling penting.
Membuka usaha bukan versi yang lebih berani dari mencari pekerjaan.
Keduanya adalah pilihan ekonomi yang berbeda.
Ada orang yang lebih cocok kembali bekerja. Ada yang sebaiknya freelance. Ada yang bisa menjalankan usaha sambil mencari pekerjaan. Ada juga yang menemukan kesempatan bisnis yang memang layak dikejar penuh.
Keputusan yang bagus bukan "pokoknya gue harus punya bisnis", tapi:
Dari pilihan yang ada sekarang, mana yang memberi kombinasi terbaik antara kemungkinan berhasil, risiko, penghasilan, dan kehidupan yang gue inginkan?
Kalau jawabannya usaha, mulai kecil. Cari bukti. Jaga uangmu.
Dan biarkan customer, bukan semangat sesaat, yang memberi alasan untuk membesarkan bisnisnya.
Mau tahu apa yang perlu dibereskan untuk usahamu?
Setiap usaha punya daftar yang berbeda. Usaha makanan tidak membutuhkan persiapan yang sama dengan seller online atau bisnis jasa.
Checklist Mulai Usaha membantu kamu menyusun langkah berdasarkan jenis usaha, cara jualan, tahap kamu sekarang, dan hal yang sudah kamu selesaikan.
Kamu akan melihat apa yang perlu dibereskan sebelum mulai, apa yang sebaiknya selesai dalam 30 hari, dan apa yang belum perlu kamu pikirkan sekarang.
Jika sudah mulai mendapat pertanyaan calon pelanggan, lanjutkan dengan contoh follow-up WhatsApp. Bila penjualan belum sesuai harapan, pisahkan gejalanya dulu sebelum mengubah harga, produk, dan promosi sekaligus.
Gratis
Checklist Mulai Usaha
Jawab beberapa pertanyaan, dapat urutan yang perlu kamu bereskan sebelum mulai jualan.
Buat checklistDasar tulisan ini
- BPJS Ketenagakerjaan, Jaminan Kehilangan Pekerjaan
- Tiga manfaat JKP, yaitu uang tunai, akses informasi pasar kerja, dan pelatihan kerja, bagi peserta yang memenuhi ketentuan. Dibaca 4 September 2026.
- Kementerian Ketenagakerjaan, manfaat program JKP bagi pekerja ter-PHK
- Penjelasan pemerintah soal isi program JKP. Dibaca 4 September 2026.
- Lembaga OSS, perizinan berusaha berbasis risiko
- NIB sebagai identitas resmi memulai usaha, dan perizinan berikutnya mengikuti kegiatan serta tingkat risiko usaha.
Lanjutan soal mulai usaha
- Cara Follow-up Pelanggan WhatsApp yang Sudah Tanya Harga
Mulai follow-up dari percakapan terakhir: sebut produk yang ditanyakan, bantu menjawab hal yang masih mengganjal, lalu beri satu langkah berikutnya yang mudah. Periksa stok, harga, dan janji sebelum mengirim. Jika pelanggan menolak atau meminta berhenti, akhiri tindak lanjutnya.
- Cara Membuat SOP Packing Pesanan yang Bisa Diikuti Tim
Mulai SOP packing dari satu pesanan: siapa mengambil barang, apa yang dicocokkan, kapan paket boleh ditutup, dan ke mana masalah diteruskan. Tuliskan bukti pemeriksaan serta kondisi berhenti. Uji dengan pesanan contoh sebelum menjadikannya prosedur kerja tim.